07 Februari, 2012

13 Penyakit Guru

Short message service (SMS) jelas merupakan sarana efektif bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Segala jenis informasi bisa disebar hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Selain sebagai sumber berita, SMS juga dapat menjadi sumber belajar dan bahkan dari perspektif negatif, layanan ini juga dapat memberikan pengaruh dan citra buruk bagi sebuah tatanan, baik secara individu maupun kelompok. Beberapa berita atau isu soal gempa di Jakarta, ancaman terorisme, hingga bocornya soal-soal ujian nasional adalah di antara beberapa contoh betapa efektifnya penggunaan SMS.

Di Kota Bekasi (mungkin juga di kota-kota lainnya di Indonesia), khususnya dalam 2 minggu terakhir ini, merebak SMS dari satu guru ke guru lainnya tentang adanya "penyakit" di kalangan para pendekar pendidikan. Bunyi SMS ini memang terasa lucu dan sedikit mengada-ada, tapi dari segi substansi tampaknya kita tak bisa menganggap remeh isu penyakit guru ini. Gejala penyakit ini bahkan menjadi bahan diskusi yang cukup serius di lingkungan para guru, sambil di antaranya mereka mencoba mencocokkan jenis penyakit mana yang sudah ada dalam diri mereka masing-masing.

Inilah bunyi 13 penyakit guru versi SMS itu, yang jika penyakit itu diklasifikasi menjadi tiga jenis keterampilan (skill), yaitu kemampuan personal (kepribadian), metodologis, dan teknis. Pada aspek kemampuan kepribadian guru, penyakit yang disinyalir ada meliputi THT (tukang hitung transport), hipertensi (hiruk persoalkan tentang sertifikasi), kudis (kurang disiplin), dan asma (asal masuk). Banyak sekali dijumpai guru yang selalu berhitung soal pembagian transport dari dana BOS, kecurangan dalam hal proses sertififikasi, kurang disiplin dan masuk sembarangan hanya sekadar memenuhi absensi. Gejala ini sangat umum terjadi di lingkungan guru dan sekolah kita.

Diklasifikasi kedua, yaitu soal aspek metodologis, disinyalir guru bahkan memiliki lebih banyak penyakit. Jenis-jenis penyakitnya, antara lain salesma (sangat lemah sekali membaca), asam urat (asal mengajar, kurang akurat), kusta (kurang strategi), kurap (kurang persiapan), stroke (suka terlambat, rupanya kebiasaan), keram (kurang terampil), serta mual (mutu amat lemah). Aspek metodologis ini memang sangat terkait erat dengan faktor courage dan kesadaran untuk berkembang yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru.

Sedangkan diklasifikasi ketiga yang menyangkut aspek keterampilan, penyakit guru disinyalir adalah TBC (tidak bisa computer) dan gaptek (gagap teknologi). Kita memang tak cukup punya bukti statistik, seberapa banyak sebenarnya jumlah guru yang sampai saat ini belum bisa dan mengerti soal komputer dan makna penting teknologi sebagai bagian dari pengembangan bahan ajar di kelas.

Merebaknya jenis-jenis penyakit di atas, meskipun disampaikan dengan cara dan tujuan untuk melucu, jelas memberi kita gambaran kondisi dan suasana batin para guru kita saat ini. Jika penyakit-penyakit tersebut memang benar adanya, kesalahan pertama harus kita tempakan kepada otoritas pendidikan kita yang salah dalam merumuskan kebijakan soal pengembangan kapasitas profesional guru. Guru seakan lupa pada rumusan dan definisi tentang pendidikan yang tertera dengan amat gamblang di dalam undang-undang sistem pendidikan nasional kita, yaitu sebagai sebuah "....usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara".

Kata "mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran" jelas merujuk dan menuntut para guru untuk kreatif dalam mengembangkan kerangka berpikir dan bahan ajar di sekolah. Karena itu sangat boleh jadi munculnya gejala penyakit seperti disinyalir di atas relevan dengan sistem pendidikan yang membelenggu akal untuk kreatif, terutama bentukan hierarki kurikulum yang rigid dan berorientasi semata pada dunia kerja.

Seorang pengembang masalah kreativitas di dunia pendidikan, Ken Robinson, mengatakan hampir dapat dipastikan seluruh sistem pendidikan di dunia menempatkan Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi (Sains) sebagai acuan utama tingkat keunggulan sebuah sekolah. Semakin banyak anak yang memiliki kemampuan Matematika dan Sains, semakin prestisiuslah sekolah tersebut. Sebab itu, bidang studi ini memperoleh jam yang begitu tinggi di sekolah, termasuk di antaranya di Indonesia.

Sekolah kita tak memiliki laboratorium seni dan musik yang cukup, juga perpustakaan yang mengoleksi buku-buku sastra yang memadai untuk menumbuhkan kreativitas anak untuk bergerak. Seluruh sekolah kita lebih banyak mengajarkan Matematika dan Sains yang hanya mengandalkan otak dan pikiran, tetapi tak memberi porsi yang cukup kepada anggota tubuh yang lain, seperti badan, tangan, dan kaki untuk bergerak. Berapa jam anak kita mengikuti pelajaran tari dan olahraga di sekolah dalam satu minggu, dan lebih banyak mana ketika anak-anak kita belajar Matematika dan Sains?

Kritik Ken Robinson sangat masuk akal sehingga dia mengatakan kebanyakan guru di sekolah saat ini menganggap bahwa badan, tangan, dan kaki mereka hanya sebagai alat transportasi kepala mereka yang penuh rumus dan terkadang membingungkan. Efek seperti ini dapat menjadikan seseorang mati rasa, antisosial, dan menjadi sangat arogan cara berpikir dan bertindaknya. Dalam rumus tak ditoleransi kesalahan. Padahal sebuah kesalahan, dalam teori belajar, merupakan awal dari sebuah kreativitas besar.

* Sumber: http://www.igi.or.id/
»»  read more

23 Januari, 2012

Kemendikbud Gelar Uji Kompetensi Guru Bulan Depan

 Kemendikbud Gelar Uji Kompetensi Guru Bulan Depan
Nasional / Senin, 23 Januari 2012 16:51 WIB



Metrotvnews.com, Jakarta: Uji kompetensi guru sebagai syarat mendapatkan sertifikasi akan digelar Februari mendatang. Pihak Kemendikbud bersikukuh uji kompetensi tidak bertentangan dengan perundangan.

Hal itu ditegaskan Ketua Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kemendikbud Syawal Goeltom, Senin (21/1). Kemendikbud berpendapat profesionalisme dalam kinerja akan menjadi tuntutan setelah guru diakui sebagai profesi.

"Ini merupakan tuntutan terhadap kinerja guru sejak diakui sebagai profesi unggulan,"kata Syawal.

Ia mengungkapkan, tujuan uji kompetensi ini untuk mengetahui profesionalisme guru. Ada dua poin penting yang akan diujikan yaitu penguasaan bahan ajar dan metode pedagogik yang digunakan dalam perancangan pembelajaran.

Sebelumnya, PGRI menyatakan kekhawatiran bahwa uji kompetensi ini tidak dapat dilalui guru-guru yang senior yang masa mengajarnya sudah panjang. "Jangan khawatir, saya kira guru junior mau pun senior mampu menyelesaikan soal-soal dalam uji kompetensi. Seharusnya semua bisa, karena itu kan materi yang mereka ajarkan sehari-hari," cetusnya.

Syawal menjelaskan, meski amanat Undang-Undang (UU) menyebutkan sertifikasi guru selesai di 2015, bukan berarti seluruh guru yang mengikuti uji kompetensi akan lulus dan mendapatkan sertifikasi.

Tahun ini, kuota sertifikasi guru yang tersedia hanya 250 ribu dari sekitar 300 ribu guru peserta uji kompetensi. Guru yang mengikuti dan tidak lulus uji kompetensi tahun ini, dapat kembali mengikuti ujian di dua tahun berikutnya.

"Amanat UU mewajibkan semua guru ikut seleksi sertifikasi, dan hanya meluluskan yang layak. Mereka yang tidak lulus istirahat dulu setahun dan tetap mengajar. Dua tahun berikutnya baru ikut lagi. Ini aspek keadilan demi memberikan kesempatan kepada yang lain," papar Syawal.(MI/DSY)
»»  read more

28 Desember, 2011

Format A0-Sertifikasi 2012

Daftar Kuota Sertifikasi Guru 2011

1. Kota Parepare
2. Kab. Pinrang

3. Kab. Enrekang
4. Kab. Barru
5. Kab. Soppeng

 FORMULIR PENDAFTARAN CALON PESERTA
SERTIFIKASI GURU TAHUN 2012
DITJEN PMPTK KEMENDIKNAS 

1.     Nama Lengkap dgn Gelar             :
2.     Pola Sertifikasi *)                         :         PLPG          Portopolio          Pemberian Serifikasi Langsung
3.     Bidang Tusdi Sertifikasi **)           :
4.     NUPTK                                        :
5.     NIP                                              :
6.     Pangkat/Gol. (untuk PNS)             :
7.     Masa Kerja Sebagai Guru             :
8.     Jenis Kelamin                              :
9.     Tempat/tgl.Lahir                           :
10.  Pendidikan Terakhir/ Bid.Studi      :
Nama Perguruan Tinggi                :
11.  Mengajar Satuan Pendidikan         :
12.  Mata Pelajaran/ Guru Kelas           :
13.  Beban Mengajar                           :       Jam Tatap Muka/minggu
14.  Tugas Tambahan                          :
15.  No. HP ***)                                  :
16.  Sekolah/Tempat Tugas
a.     Nama Sekolah                       :
b.    Alamat Sekolah                      :
c.     Kecamatan                            :
d.    Kabupaten/ Kota                    :
e.     Provinsi                                 :
f.     No.Telp.Sekolah                    :
g.    NSS                                      :


                                                                                   Parepare, 31 Desember 2012
                                                                                   Peserta


                                                                                   __________________________


Lampiran Berkas:
1.       Fotocopy SK CPNS, SK, GTY untuk Non PNS
2.       Fotocopy SK Pangkat terakhir
3.       Ijazah terakhir
 
                                                                                  NIP.
»»  read more

17 Desember, 2011

PowerPoint Relasi dan Fungsi

Dalam menyusun PowerPoint hendaknya kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Buatlah RPP dengan memperhatikan Model, Metode, Strategi Pembelajaran, (2) Persiapkan buku-buku yang akan digunakan sebagai referensi, (3) Buatlah LKS. Setelah semuanya siap langkah yang Anda harus lakukan adalah buatlah Flochart PowerPoint yang Anda akan buat, flochart tersebut minimal memuat: (1) Judul, (2) Tujuan, (3) Prasyarat, (4) Materi, (5) Evaluasi dan (6) Rangkuman.
Berikut ini saya akan mencoba membagi pengalaman dalam membuat PowerPoint dengan materi Relasi dan Fungsi.
1. Buatlah Format slide seperti pada gambar berikut:
2. Duplicate slide 1 menjadi slide 2, kemudian edit, seperti gambar berikut:
3. Duplicate slide 2 menjadi slide 3 kemudian edit
4. Duplicate slide 3 menjadi slide 4
5. Duplicate slide 4 menjadi slide 5
6. Duplicate slide 5 menjadi slide 6
7. Duplicate slide 6 menjadi slide 7
Selanjutnya langkah berikutnya buatlah link ke setiap slide
»»  read more

05 Desember, 2011

Membuat Media PowerPont

Suatu pertanyaan yang sangat menggajal di benak semua guru, bagaimana membuat PowerPoint yang baik, menarik, interaktif, dapat digunakan dalam pembelajaran.
Berikut ini saya mencoba memberikan tips untuk membuat  media dengan PowerPoint , yaitu:

1.  Buatlah sketsa PowerPoint yang Anda akan buat, terdiri dari:
a.  Judul Materi (1 slide)







b. Tujuan Pembelajaran (1 slide)










c. Materi Prasyarat (1 Slide)












d. Materi ( < 3 Slide)













e. Evaluasi ( < 2 Slide)













2. Setelah semua selesai Anda buat, tuliskan nomor tampilan Animasinya.'
3. Buka PowerPoint Silahkan Anda Buat Powerpointnya.

Selamat Mencoba semoga sukses....



»»  read more

29 November, 2011

Dalam membuat sebuah buku, skripsi, proposal atau apalah namanya yang berupa naskah dengan banyak halaman, biasanya disertai dengan halaman daftar isi yang memuat topic atau bahasan yang ada dalam buku atau skripsi tersebut dan dicantumkan juga nomor halaman atau page number.

Dalam aturan pemberian nomor halaman terdapat dua format nomor halaman, yaitu format nomor halaman dengan angka romawi kecil, dan penomoran halaman dengan menggunakan angka standart. Penomoran halaman dengan angka romawi kecil yaitu I, ii, iii, dst biasanya diberikan mulai halaman judul, abstrak, halaman pengesahan, halaman motto, sampai dengan halaman daftar isi atau kata pengantar. Sedangkan normor halaman yang menggunakan angka standart 1, 2, 3, dst diberikan pada halaman Bab I Pendahuluan dan seterusnya. Dan biasanya aturan letak memberikan nomor halaman juga berbeda. Halaman judul sampai dengan kata pengantar yang menggunakan angka romawi kecil biasanya terletak di bagian footer dan center (berada di tengah-tengah). Sedangkan halaman BAB I Pendahuluan dan seterusnya menggunakan angka standart dan nomor halamannya terletak pada footer sebelah kanan (right) kecuali pada setiap halaman BAB berada pada header ( atas) sebelah kanan. Untuk mengatur seperti tersebut diatas, biasanya penulis atau yang ngetik naskah membagi menjadi dua atau tiga file yang terdiri dari file yang berisi halaman judul dan satunya lagi file dengan halaman dengan nomor angka standart (BAB I, dst). Namun hal tersebut dapat kita jadikan menjadi satu file saja yang terdiri dari halaman dengan nomor romawi dan halaman dengan nomor angka standart. Untuk itu anda harus membuat section break. Dan berikut ini caranya :
  1. Ketik semua naskah buku, skripsi, proposal, laporan dan sebagainya.
  2. Untuk membuat nomor halaman romawi pada halaman judul sampai kata pengantar, klik insert, pada group menu Header&Footer klik Page Number kemudian pilih Bottom of page dan pilih Plain number 2
  1. Maka halaman 1 akan terlihat pada halaman judul. Untuk merubah angka standart menjadi angka romawi, klik pada page number dan pilih Format page numbers.
  1. Pada number format pilih i,ii,iii,…. Dan klik OK, maka nomor halaman akan berubah dari angka 1 menjadi i (angka romawi 1)
  1. Sampai disini semua halaman menggunakan angka romawi kecil.
  2. Untuk membuat halaman BAB I Pendahuluan dan seterusnya menjadi angka standart dimulai dari angka 1 tanpa merubah format nomor halaman sebelumnya, maka halaman BAB I harus dibuat section break. Caranya adalah letakkan kursor pada halaman BAB I atau halaman yang nomor halamannya akan dirubah. Kemudian klik Ribbon Page Layout, dan klik Breaks pada group menu Page setup. Kemudian klik atau pilih Next page. Sampai disini new section break telah terbentuk.
  1. Klik ganda pada Footer / nomor halaman BAB I, pada ribbon design, group menu navigation, nonaktifkan tombol Link to previous. Klik tombol tersebut sehingga tidak berwarna kuning lagi.
  1. Hapus nomor halaman tersebut, kemudian pada ribbon design, group menu Header&Footer klik page number. Dan pilih format page numbers.
  1. Pada number format ubah i,ii,iii,…. Menjadi 1,2,3,… kemudian pada pilihan start at pilih 1 dan klik OK.
  1. Sampai disini sudah berubah, yaitu halaman judul sampai dengan kata pengantar menggunakan format nomor halaman menggunakan angka romawi kecil sedangkan pada halaman BAB I Pendahuluan menggunakan nomor halaman angka standart.
  2. Untuk pengaturan letak halaman pada prinsipnya menggunakan cara yang sama yaitu menghilangkan fungsi link to previous dan start at pilih secara manual halaman yang anda butuhkan.

Setelah pengaturan diatas, maka dalam satu file nomor halaman berbeda-beda formatnya, ada nomor halaman dengan format angka romawi i,ii,iii,… dan ada juga nomor halaman yang menggunakan angka standart / Arabic 1,2,3,…

»»  read more

19 November, 2011

Membuat Tes Online

Setelah lama memikirkan bagaimana menyusun sebuah tes yang dapat diakses secara online, setelah saya membuka account google saya ternyata semua tersebut dapat terjadi... melalui tulisan ini saya akan mencoba mengupasnya, mudah-mudahan hal tersebut bisa menjadi bermanfaat bagi guru-guru...
Langkah 1.
Anda harus mempunyai accunt di google, silahkan login di sini selanjutnya Anda tinggal mengisi formulir yang ada.
setelah semuanya selesai silahkan anda masuk ke akun google, dengan mengetik nama email dan passwordnya.
Langkah 2
pada akun google Anda, klik stelan akun, lalu pada menu klik documents.
Langkah 3
klik created, kemudian klik form
Langkah 4
Silahkan kutak katik...formulirnya...
untuk melihat hasilnya lihat di CONTOH SOAL
selamat mencoba...
»»  read more