12 Maret, 2012

UTS APLIKASI KOMPUTER II

»»  read more

05 Maret, 2012

Tes PraUjian Nasional 2012

»»  read more

23 Februari, 2012

Materi Ujian Kompetensi Awal Matematika SMP

MATERI UKA MATA PELAJARAN MATEMATIKA SMP
KOMPETENSI DASAR
1.2 Mengidentifikasi potensi peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu.
1.3 Mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu.
1.4 Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu.
INDIKATOR
·         Mengidentifikasi penyebab kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika (SMP)
MATERI
Identifikasi kesulitan belajar matematika siswa dapat dilakukan dengan beberapa cara:
1. Pendekatan Profil Materi
Pendekatan ini bertujuan untuk mendiagnosis kesulitan dalam profil penguasaan materi, yaitu kompetensi siswa terhadap (sub) materi dibandingkan dengan kompetensinya terhadap (sub) materi lain, atau membandingkan penguasaan siswa yang satu dengan siswa lain terhadap satu kompetensi dasar tertentu.
2. Pendekatan Prasyarat Pengetahuan dan Kemampuan
Pendekatan ini digunakan untuk mendeteksi kegagalan siswa dalam hal pengetahuan prasyarat dalam satu kompetensi dasar tertentu
3. Pendekatan Pencapaian Kompetensi Dasar dan Indikator
Pendekatan ini digunakan untuk mendiagnosis kegagalan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran atau indikator tertentu
4. Pendekatan Kesalahan Konsep
Pendekatan ini digunakan untuk mendiagnosis kegagalan siswa dalam hal kesalahan konsep (misconception). Contoh sederhana misalnya siswa salah konsep tentang bilangan kuadrat. Umumnya siswa akan menyatakan bahwa bilangan kuadrat selalu merupakan bilangan positif. Atau selanjutnya dalam prinsip pengkuadratan, kuadrat suatu bilangan real pasti positif (yang benar adalah pasti tidak negatif, karena 02 = 0, dan jika a > 0, maka a^2 > 0, sehingga seharus untuk setiap a^2 R, a^2 > 0)
5. Pendekatan Pengetahuan Terstruktur

Pendekatan ini digunakan untuk mendiagnosis ketidakmampuan siswa dalam memecahkan masalah yang terstruktur. Sebagai contoh siswa mengalami kesulitan mengerjakan soal berikut: Empat tahun yang lalu umur seorang ayah lima kali umur anaknya, dan tiga tahun yang akan datang umur ayah itu tiga kali umur anaknya. Berapa umur anak itu sekarang?
 Siswa mungkin tidak memahami bahasa soal tersebut sehingga tidak mampu menyusun bentuk aljabar yang sesuai. Selanjutnya, siswa tidak mampu menyusun bentuk aljabar dan kalimat terbuka yang sesuai denganmasalahnya
Indikator
·         Mengidenfikifasi kemampuan awal yang dibutuhkan siswa dalam pembelajaran suatu topik/konsep matematika (SMP)
Pada indikator ini akan diberikan beberapa contoh kesalahan menyelesaikan masalah matematika, kemudian diharapkan peserta dapat mendiagnosa kemampuan awal apa yang dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan masalah tersebut.

KOMPETENSI DASAR
2.1 Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yangmendidik terkait dengan mata pelajaranyang diampu.
2.2 Menerapkan berbagai pendekatan,strategi, metode, dan teknik pembelajaranyang mendidik secara kreatif dalam matapelajaran yang diampu

INDIKATOR
Mengenali ide atau konsep teori belajar Vigotsky (SMP)

Materi
Prinsip-prinsip Kunci Teori Konstruktivisme Vygotsky
Ratumanan (2004:45) menguraikan 5 prinsip-prinsip kunci teori Konstruktivisme oleh Vygotsky:
1.      Penekanan pada hakekat sosiokultural belajar. ygotsky menekankan pentingnya peranan lingkungan kebudayaan dan interaksi sosial dalam perkembangan sifat-sifat dan tipe-tipe manusia. Siswa sebaiknya belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Menurut Vygotsky  fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya. Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seorang terlibat secara sosial dalam dialog. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Prinsip ini melahirkan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning).
2.      Daerah Perkembangan Terdekat ( Zone of Proximal Development = ZPD).  Vygotsky  yakin bahwa belajar terjadi jika anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah perkembangan proksimal mereka. Daerah proksimal adalah tingkat perkembangan sedikit  diatas tingkat perkembangan seseorang saat ini, artinya bahwa daerah ini adalah daerah antara tingkat perkembangan sesungguhnya  (aktual) dan tingkat perkembangan potensial anak. Tingkat perkembangan aktual adalah pemfungsian intelektual individu saat ini dan kemampuan untuk mempelajari sesuatu dengan kemampuannya sendiri (kemampuan memecahkan masalah secara mandiri), sedang tingkat perkembangan potensial anak adalah kondisi yang dapat dicapai oleh seseorang individu dengan bantuan orang dewasa atau melalui kerja sama dengan teman sebaya yang lebih mampu. (kemampuan memecahkan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya). Jadi pada saat siswa bekerja dalam daerah perkembangan terdekat (ZPD)  mereka, tugas-tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri, akan dapat mereka selesaikan dengan bantuan teman sebaya  atau orang dewasa. Pembelajaran di sekolah hendaknya bekerja dalam daerah ini, menarik kemampuan-kemampuan  anak  dengan maksud mendorong pertumbuhan seefektifnya.
3.      Pemagangan kognitif. Vygotsky menekankan bahwa pemagangan kognitif  mengacu pada proses di mana seseorang yang sedang belajar tahap demi tahap memperoleh keahlian melalui interaksinya dengan pakar. Pakar yang dimaksud adalah orang menguasai permasalahan yang dipelajari, jadi dapat berupa orang dewasa atau teman sebaya. Dalam konteks koperatif, siswa yang lebih pandai dalam kelompoknya dapat merupakan pakar bagi teman-teman dalam kelompok tersebut.
4.      Perancahan (Scaffolding). Perancahan (scaffolding) mengacu kepada pemberian sejumlah bantuan oleh teman sebaya atau orang dewasa yang berkompeten kepada anak. Menurut Slavin (Ratumanan, 2004:47) scaffolding berarti memberikan kepada anak sejumlah besar dukungan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu melakukan tugas tersebut secara mandiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal dalam meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang lebih tinggi menjadi optimum. Prinsip ini melahirkan metode  penemuan terbimbing dalam pembelajaran.
Bergumam (Private Speech). Berguman adalah berbicara dengan diri sendiri atau berbicara dalam hati untuk tujuan membimbing dan mengarahkan diri sendiri. Menurut Vygotsky private speech dapat memperkuat interaksi sosial anak dengan orang lain. Private speech dapat dilihat pada seorang anak yang dihadapkan pada suatu masalah dalam sebuah ruangan di mana terdapat orang lain, biasanya orang dewasa. Anak kelihatannya berbicara pada dirinya sendiri mengenai masalah tertentu, tetapi pembicaraanya diarahkan pada orang dewasa. Private speech kemudian dihalangi, tertangkap dan ditransformasikan ke dalam proses berfikir

Indikator
·         Mengidentifikasi prinsip pembelajaran dengan pendekatan tertentu (pembelajaran kontekstual atau pembelajaran berbasis masalah) (SMP)



PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar mengajar yang membantu peserta didik menghubungkan isi materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata serta memotivasi peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan nyata. Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi peserta didik untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan  mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga peserta didik memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya.
Karakteristik pembelajaran konstektual adalah sebagai berikut:
- Proses pembelajarannya mencakup berbagai disiplin pengetahuan sehingga peserta didik memperoleh perspektif terhadap kehidupan nyata.
- Tujuan pembelajarannya berbasis pada:
    * Standar disiplin pengetahuan yang ditetapkan secara nasional atau lokal oleh asosiasi profesi.
    * Pengetahuan & keterampilan yang ditetapkan dalam tujuan memiliki daya guna dan kompetensi tertentu.
    * Keterampilan berpikir tinggi seperti pemecahan masalah, berpikir kritis dan pembuatan keputusan.
- Pengalaman belajarnya mendorong peserta didik membuat hubungan konteks internal dan eksternal.
- Integrasi pendidikan akademik dan karier akan membantu peserta didik memahami isi materi pelajaran dan pemahaman tentang karier atau bidang kajian teknis tertentu.

Komponen pembelajaran kontekstual meliputi:
1. Kontruktivisme
2. Inkuiri (menemukan)
    Menemukan merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasisi CTL (Contextual Teaching and Learning). Langkah-langkah kegiatan inkuiri adalah:                    - merumuskan masalah
                                                                                          - mengamati atau melakukan observasi
                                                                                          - menganalisis
                                                                                          - mengkomunikasikan atau menyajikan hasil
3. Questioning (bertanya)
    Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis CTL
4. Masyarakat belajar
    Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok dan antar yang tahu ke yang belum tahu.
5. Modeling (pemodelan)
    Pendidik memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Ada  model yang bisa ditiru dan diamati peserta didik sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci.
6. Refleksi
    Adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa lalu.
7. Penilaian autentik
    Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan peserta didik. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik.

Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual meliputi:
-   Prinsip saling ketergantungan
    Prinsip ini mengajak peserta didik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lain, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan alam.
-   Prinsip diferensiasi
    Prinsip ini mengembangkan kreativitas dan mendorong keragaman dan keunikan antara peserta didik untuk bekerjasama dalam bentuk yang disebut simbiosis.
-   Prinsip pengaturan diri
    Prinsip ini menyatakan bahwa kegiatan belajar diatur sendiri, dipertahankan sendiri dan disadari sendiri oleh peserta didik.

Pendekatan pada pembelajaran kontekstual meliputi:
1. Pembelajaran berbasis masalah
    Merupakan pendekatan yang melibatkan peserta didik dalam pengkajian pemecahan masalah yang memadukan keterampilan dan konsep dari berbagai isi pelajaran.
2. Penggunaan keragaman konteks
    Pengalaman pembelajaran kontekstual dapat diperkaya apabila peserta didik belajar keterampilan di berbagai lingkungan .
3. Pengelompokan peserta didik
    Tujuannya adalah agar mereka mapu berbagi pengalaman dan informasi. Dalam pengelompokan peserta didik, anggotanya berasal dari berbagai macam konteks dan latar belakang agar mereka memiliki berbagai sudut pandang terhadap suatu masalah.
4. Dukungan belajar peserta didik mengatur diri sendiri
    Dalam pembelajaran kontekstual diharapkan dapat mendorong peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dalam hal ini mereka mapu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan sedikit atau tanpa bimbingan dari orang lain.
5. Pembentukan kelompok belajar saling ketergantungan
    Peserta didik akan dipengaruhi dan akan memberikan kontribusi terhadap pengetahuan dan kepercayaan orang lain. Kelompok belajar dibangun untuk berbagi pengetahuan dan memberikan peluang kepada peserta didik untuk saling membelajarkan.
6. Menggunakan asesmen autentik
            Asesmen belajar hendaknya berkaitan dengan metode dan tujuan pembelajaran. Asesmen autentik menunjukkan bahwa belajar terjadi, terpadu dengan proses belajar mengajar, dan memberikan kesempatan dan arah perbaikan kepada peserta didik. Asesmen autentik hendaknya digunakan untuk memantau kemajuan peserta didik dan memberikan informasi tentang kegiatan pembelajaran


»»  read more

07 Februari, 2012

13 Penyakit Guru

Short message service (SMS) jelas merupakan sarana efektif bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Segala jenis informasi bisa disebar hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Selain sebagai sumber berita, SMS juga dapat menjadi sumber belajar dan bahkan dari perspektif negatif, layanan ini juga dapat memberikan pengaruh dan citra buruk bagi sebuah tatanan, baik secara individu maupun kelompok. Beberapa berita atau isu soal gempa di Jakarta, ancaman terorisme, hingga bocornya soal-soal ujian nasional adalah di antara beberapa contoh betapa efektifnya penggunaan SMS.

Di Kota Bekasi (mungkin juga di kota-kota lainnya di Indonesia), khususnya dalam 2 minggu terakhir ini, merebak SMS dari satu guru ke guru lainnya tentang adanya "penyakit" di kalangan para pendekar pendidikan. Bunyi SMS ini memang terasa lucu dan sedikit mengada-ada, tapi dari segi substansi tampaknya kita tak bisa menganggap remeh isu penyakit guru ini. Gejala penyakit ini bahkan menjadi bahan diskusi yang cukup serius di lingkungan para guru, sambil di antaranya mereka mencoba mencocokkan jenis penyakit mana yang sudah ada dalam diri mereka masing-masing.

Inilah bunyi 13 penyakit guru versi SMS itu, yang jika penyakit itu diklasifikasi menjadi tiga jenis keterampilan (skill), yaitu kemampuan personal (kepribadian), metodologis, dan teknis. Pada aspek kemampuan kepribadian guru, penyakit yang disinyalir ada meliputi THT (tukang hitung transport), hipertensi (hiruk persoalkan tentang sertifikasi), kudis (kurang disiplin), dan asma (asal masuk). Banyak sekali dijumpai guru yang selalu berhitung soal pembagian transport dari dana BOS, kecurangan dalam hal proses sertififikasi, kurang disiplin dan masuk sembarangan hanya sekadar memenuhi absensi. Gejala ini sangat umum terjadi di lingkungan guru dan sekolah kita.

Diklasifikasi kedua, yaitu soal aspek metodologis, disinyalir guru bahkan memiliki lebih banyak penyakit. Jenis-jenis penyakitnya, antara lain salesma (sangat lemah sekali membaca), asam urat (asal mengajar, kurang akurat), kusta (kurang strategi), kurap (kurang persiapan), stroke (suka terlambat, rupanya kebiasaan), keram (kurang terampil), serta mual (mutu amat lemah). Aspek metodologis ini memang sangat terkait erat dengan faktor courage dan kesadaran untuk berkembang yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru.

Sedangkan diklasifikasi ketiga yang menyangkut aspek keterampilan, penyakit guru disinyalir adalah TBC (tidak bisa computer) dan gaptek (gagap teknologi). Kita memang tak cukup punya bukti statistik, seberapa banyak sebenarnya jumlah guru yang sampai saat ini belum bisa dan mengerti soal komputer dan makna penting teknologi sebagai bagian dari pengembangan bahan ajar di kelas.

Merebaknya jenis-jenis penyakit di atas, meskipun disampaikan dengan cara dan tujuan untuk melucu, jelas memberi kita gambaran kondisi dan suasana batin para guru kita saat ini. Jika penyakit-penyakit tersebut memang benar adanya, kesalahan pertama harus kita tempakan kepada otoritas pendidikan kita yang salah dalam merumuskan kebijakan soal pengembangan kapasitas profesional guru. Guru seakan lupa pada rumusan dan definisi tentang pendidikan yang tertera dengan amat gamblang di dalam undang-undang sistem pendidikan nasional kita, yaitu sebagai sebuah "....usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara".

Kata "mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran" jelas merujuk dan menuntut para guru untuk kreatif dalam mengembangkan kerangka berpikir dan bahan ajar di sekolah. Karena itu sangat boleh jadi munculnya gejala penyakit seperti disinyalir di atas relevan dengan sistem pendidikan yang membelenggu akal untuk kreatif, terutama bentukan hierarki kurikulum yang rigid dan berorientasi semata pada dunia kerja.

Seorang pengembang masalah kreativitas di dunia pendidikan, Ken Robinson, mengatakan hampir dapat dipastikan seluruh sistem pendidikan di dunia menempatkan Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi (Sains) sebagai acuan utama tingkat keunggulan sebuah sekolah. Semakin banyak anak yang memiliki kemampuan Matematika dan Sains, semakin prestisiuslah sekolah tersebut. Sebab itu, bidang studi ini memperoleh jam yang begitu tinggi di sekolah, termasuk di antaranya di Indonesia.

Sekolah kita tak memiliki laboratorium seni dan musik yang cukup, juga perpustakaan yang mengoleksi buku-buku sastra yang memadai untuk menumbuhkan kreativitas anak untuk bergerak. Seluruh sekolah kita lebih banyak mengajarkan Matematika dan Sains yang hanya mengandalkan otak dan pikiran, tetapi tak memberi porsi yang cukup kepada anggota tubuh yang lain, seperti badan, tangan, dan kaki untuk bergerak. Berapa jam anak kita mengikuti pelajaran tari dan olahraga di sekolah dalam satu minggu, dan lebih banyak mana ketika anak-anak kita belajar Matematika dan Sains?

Kritik Ken Robinson sangat masuk akal sehingga dia mengatakan kebanyakan guru di sekolah saat ini menganggap bahwa badan, tangan, dan kaki mereka hanya sebagai alat transportasi kepala mereka yang penuh rumus dan terkadang membingungkan. Efek seperti ini dapat menjadikan seseorang mati rasa, antisosial, dan menjadi sangat arogan cara berpikir dan bertindaknya. Dalam rumus tak ditoleransi kesalahan. Padahal sebuah kesalahan, dalam teori belajar, merupakan awal dari sebuah kreativitas besar.

* Sumber: http://www.igi.or.id/
»»  read more

23 Januari, 2012

Kemendikbud Gelar Uji Kompetensi Guru Bulan Depan

 Kemendikbud Gelar Uji Kompetensi Guru Bulan Depan
Nasional / Senin, 23 Januari 2012 16:51 WIB



Metrotvnews.com, Jakarta: Uji kompetensi guru sebagai syarat mendapatkan sertifikasi akan digelar Februari mendatang. Pihak Kemendikbud bersikukuh uji kompetensi tidak bertentangan dengan perundangan.

Hal itu ditegaskan Ketua Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kemendikbud Syawal Goeltom, Senin (21/1). Kemendikbud berpendapat profesionalisme dalam kinerja akan menjadi tuntutan setelah guru diakui sebagai profesi.

"Ini merupakan tuntutan terhadap kinerja guru sejak diakui sebagai profesi unggulan,"kata Syawal.

Ia mengungkapkan, tujuan uji kompetensi ini untuk mengetahui profesionalisme guru. Ada dua poin penting yang akan diujikan yaitu penguasaan bahan ajar dan metode pedagogik yang digunakan dalam perancangan pembelajaran.

Sebelumnya, PGRI menyatakan kekhawatiran bahwa uji kompetensi ini tidak dapat dilalui guru-guru yang senior yang masa mengajarnya sudah panjang. "Jangan khawatir, saya kira guru junior mau pun senior mampu menyelesaikan soal-soal dalam uji kompetensi. Seharusnya semua bisa, karena itu kan materi yang mereka ajarkan sehari-hari," cetusnya.

Syawal menjelaskan, meski amanat Undang-Undang (UU) menyebutkan sertifikasi guru selesai di 2015, bukan berarti seluruh guru yang mengikuti uji kompetensi akan lulus dan mendapatkan sertifikasi.

Tahun ini, kuota sertifikasi guru yang tersedia hanya 250 ribu dari sekitar 300 ribu guru peserta uji kompetensi. Guru yang mengikuti dan tidak lulus uji kompetensi tahun ini, dapat kembali mengikuti ujian di dua tahun berikutnya.

"Amanat UU mewajibkan semua guru ikut seleksi sertifikasi, dan hanya meluluskan yang layak. Mereka yang tidak lulus istirahat dulu setahun dan tetap mengajar. Dua tahun berikutnya baru ikut lagi. Ini aspek keadilan demi memberikan kesempatan kepada yang lain," papar Syawal.(MI/DSY)
»»  read more

28 Desember, 2011

Format A0-Sertifikasi 2012

Daftar Kuota Sertifikasi Guru 2011

1. Kota Parepare
2. Kab. Pinrang

3. Kab. Enrekang
4. Kab. Barru
5. Kab. Soppeng

 FORMULIR PENDAFTARAN CALON PESERTA
SERTIFIKASI GURU TAHUN 2012
DITJEN PMPTK KEMENDIKNAS 

1.     Nama Lengkap dgn Gelar             :
2.     Pola Sertifikasi *)                         :         PLPG          Portopolio          Pemberian Serifikasi Langsung
3.     Bidang Tusdi Sertifikasi **)           :
4.     NUPTK                                        :
5.     NIP                                              :
6.     Pangkat/Gol. (untuk PNS)             :
7.     Masa Kerja Sebagai Guru             :
8.     Jenis Kelamin                              :
9.     Tempat/tgl.Lahir                           :
10.  Pendidikan Terakhir/ Bid.Studi      :
Nama Perguruan Tinggi                :
11.  Mengajar Satuan Pendidikan         :
12.  Mata Pelajaran/ Guru Kelas           :
13.  Beban Mengajar                           :       Jam Tatap Muka/minggu
14.  Tugas Tambahan                          :
15.  No. HP ***)                                  :
16.  Sekolah/Tempat Tugas
a.     Nama Sekolah                       :
b.    Alamat Sekolah                      :
c.     Kecamatan                            :
d.    Kabupaten/ Kota                    :
e.     Provinsi                                 :
f.     No.Telp.Sekolah                    :
g.    NSS                                      :


                                                                                   Parepare, 31 Desember 2012
                                                                                   Peserta


                                                                                   __________________________


Lampiran Berkas:
1.       Fotocopy SK CPNS, SK, GTY untuk Non PNS
2.       Fotocopy SK Pangkat terakhir
3.       Ijazah terakhir
 
                                                                                  NIP.
»»  read more